Pameran Tunggal Yunizar “Jogja Psychedelia”

Jogja PsychedeliaApa boleh buat. Kuasa Tuhan menentukan segalanya di muka bumi. Hujan yang mengguyur  Yogyakarta sejak  sore  membuat  pembukaan pameran  tunggal Yunisar berjudul “Jogja Psychedelia”  di Sangkring Art Studio, Kamis (23/9) sepi pengunjung.

Yunisar adalah salah satu anggota kelompok Jendela yang dalam beberapa tahun terakhir berkibar namanya di dunia seni rupa kontemporer tidak hanya nasional tapi juga internasional.  Jadi sebenarnya  pameran tunggal “Jogja Psychedelia” adalah pameran seni rupa yang layak tonton sekaligus layak apresiasi.

Pameran tunggal Yunizar “Jogja Psiychedelia” diselenggarakan oleh Gajah Gallery Singapura bekerjasama dengan Galeri  Sumardja Fakultas Seni dan Desain ITB serta Sangkring Art Yogyakarta. Pameran “Jogja Psychedelia” ini telah dipamerkan di Galeri Sumardja ITB pada 31 Juli-30 Agustus 2010 lalua.

Sementara untuk pameran di Sangkring Art Space ini akan dilangsungkan dari 23 September hingga 5 Oktober 2010 mendatang dan selanjutnya akan dipamerkan di Gajah Gallery Singapura 15 Oktober hingga 15 November 2010.

Jasdeep Sandhu, Pengelola Gajah  Gallery mengatakan dunia seni rupa di Yogyakarta telah mengalami kemajuan pesat dibandingkan 15 tahun yang lalu ketika dirinya datang kali pertama di Yogyakarta. Seni rupa di Yogyakarta telah mengalami kemajuan secara  jumlah seniman dan secara  kekaryaan.

Ia berharap di masa depan  ada karya bagus yang bisa go internasional. Untuk pameran di Korea, Jepang, Beijing dan New York adalah obsesi. “Yang penting bagaimana caranya kerja untuk membuat pameran, penulis, catalog serta riset itu lebih penting kalau mau go internasional, ada direktur bagus, seniman bagus nanti ke internasional jadi lebih gampang,” kata Jasdeep Sandhu.

Kurator Pameran Tunggal Yunizar, Aminudhien TH Siregar mengatakan dalam pameran ini Yunizar melukis serial bunga-bunga. Kemunculan bunga dalam karya-karya Yunizar tentu bukan pertama kali ini saja.

Pada karya-karya sebelumnya, Yunizar sudah memunculkan bentuk-bentuk bunga yang lebih kecil yang dipadukan dengan bentuk rumah atau pemandangan. Hanya saja kali bunga sepenuhnya dijadikan pokok persoalan.Bunga-bunga karya Yunizar kali ini hadir seakan sebagai pembesaran terhadap karya-karya sebelumnya.

“Bunga Yunizar berhasil memancing sensibilitas kita terhadap hal naïf manusiawi seorang seniman tetapi juga menggiring persepsi kita ke segala hal yang bersyfat “neurotik” dan lebih dari itu psychedelik,” terang pria yang sering disapa Ucok ini.

Sementara itu Oei Hong Djien dalam sambutannya sebelum membuka pameran menerangkan Yunizar memang sudah sejak lama melukis bunga dengan bentuk yang kecil-kecil. Namun setelah ia mengenal Paris bunga Yunizar menjadi besar-besar.

“ Kalau Ucok member nama pameran Yunizar ini dengan “Jogja Psychedelik itu terlalu susah.Maka saya akan member judul pameran ini “Yunizar Post Paris” karena setelah dari Perancis bunga Yunizar besar-besar,” kata OHJ.

Menurut OHD, Yunizar sekarang justru betul-betul sangat demonstrative. Mendadak Yuizar sangat bersih karena sudah terkontaminasi dengan Paris. Yunizar dulu masih suka makanan Padang yang pedas-pedas tapi sekarang lain.

“Dalam karir seseorang tentu harus mencoba sesuatu yang baru dan ini periode yang baru setelah coret-coret bunga. Karena kalau terlalu pedes-pedes bisa sakit mag sekali-kali boleh makan yang lain,” ujar OHD memberi perumpamaan. (The Real Jogja/joe)



Share on Facebook


Leave a Reply