Soto Sawah Soragan
Posted on Friday, December 17th, 2010 Under Makanan & MinumanAwal membuka warung soto ini, Kromoinangun warga Soragan tentu tak menyangka kalau dikemudian hari warung sotonya bakal seramai sekarang. Betapa tidak, warung soto ini mulai buka dan beroperasi saat Jalan Soragan bisa disebut bukan saja sepi, tapi nyaris tanpa pelintas.
“Kata bapak almarhum, waktu itu hanya blantik-blantik yang lewat jalan ini untuk pulang dari Pasar Kuncen. Selebihnya, orang lebih senang lewat jalan Godean atau Jalan Cokroaminoto. Sangat jarang yang melintas di daerah ini,” kata Hadi Sudarmo pewaris Soto Sawah Soragan bebefapa waktu silam.
Begitu sepinya lokasi berjarak sekitar 700 meter selatan Mirota Jalan Godean ini, sehingga kenekatan Kromoinangun diibaratkan hanya akan mampir membuka pintu dan segera gulung tikar. Lokasi warung ditengah sawah, pinggir jalan setapak, nyaris tidak menjanjikan apapun kecuali para blantik tadi.
Tapi anehnya, Pak Kromo ternyata bertahan. Bahkan warung sotonya dari waktu ke waktu makin ramai dan membesar seiring dengan terbukanya akses jalan ke daerah ini karena perkembangan wilayah. Kini, dipenggal jalan ini secara berdekatan bisa ditemui sejumlah warung soto yang semuanya menyebut Soto Sawah. Kenapa kemudian beken dengan penyebutan sawah, tentu tak terlepas dari Kromoinangun yang awalnya membuka warung di tengah sawah.
Kini hamparan sawah memang tak lagi terlihat di Soragan, tetapi tetap saja Bu Hadi Sudarmo menyebut warungnya sebagai Soto Sawah. Sebenarnya bahan baku yang diformulasikan tak jauh berbeda dengan umumnya soto. Entah pula di mana rahasianya, yang jelas sejak tahun 1973 mewarisi usaha ayahnya, Pak Kromoinangun, warung yang satu ini tak pernah sepi pengunjung.
Ibarat sejak pintu dibuka hingga ditutup kembali lepas tengah hari, kursi-kursinya tak lepas dari pantat pelanggan. Dari mobil yang hampir selalu berderet panjang di depannya, bisa diduga pelanggan bukan sekadar ingin mengisi perut, tetapi sekaligus untuk merenda klangenan. Tidak jarang pula pelaku bisnis menraktir mitra-mitranya makan siang sambil merembug kelancaran usahanya.
Bu Hadi sering merasa sedih juga ketika sejumlah tamu terpaksa manyantap soto dalam mobil. Di warung itu sebenarnya sudah tersedia 50 kursi, tetapi kenyataan pelanggan sering datang pada waktu hampir bersamaan. Kalau sudah begitu, berarti lima karyawannya harus serba cekatan, meladeni secepat mungkin.
Bayangkan, sedikitnya 300 mangkok harus tersaji secara cepat agar pelanggan tak menggerutu. Untung karyawan sudah cukup terlatih sehingga penyiapan porsi-porsinya bisa dilakukan dalam hitungan detik tanpa harus khawatir kelebihan garam atau lupa menaburi bumbu penyedap. Meski terbilang tinggal sebatas mengawasi, tak jarang pula Bu Hadi terjun langsung ke dapur memastikan citarasanya.
“Racikan biasa-biasa saja. Saya pikir hanya soal selera. Kebetulan saja adonan yang kami kemas memenuhi selera banyak orang!” kata nenek lima cucu itu merendah.
Dengan pelanggan yang berjibun kesehariannya, sekarang ini untuk ramuan inti sotonya, Bu Hadi menghabiskan sedikitnya 15 ekor ayam. “Wah, riyin nggih rekaos. Sing tumbas, paling namung blantik-blantik sing wangsul saking peken Kuncen. Pelanggan sanese namung setunggal kalih!” (Wah dulu sih susah. Paling-paling pembelinya blantik atau pedagang sapi yang baru pulang dari pasar hewan Kuncen. Pelanggan lain hanya satu, dua) ujarnya mengenang.
Soal pelanggan, Bu Hadi dengan bangga lantas menyebut nama Amir Mahmud, Ali Murtopo dan Radius Prawiro yang semuanya pernah menjabat sebagai menteri. Juga ada Probo Sutejo, Jenderal Subagyo HS dan tentu tak ketinggalan keluarga kraton yang menutur Bu Hadi juga kerap singgah ke warungnya.
“Bahkan ada pemilik warung soto terkenal di Jogja yang sering kesini juga,” kata Bu Hadi tanpa menyebut namanya. Soto Sawah kini telah menjadi salah satu alternatif pilihan santap siang. Itu adalah buah penantian panjang yang ditinggalkan warga Soragan bernama Kromoinangun. Bagi keluarga Hadi Sudarmo, warisan itu menjadi sangat berharga. Paling tidak, menjadi warung jujugan, memberi manfaat ekonomi bagi keluarga, termasuk mengantarkan Bu Hadi ke tanah suci, tahun 1997. (SW)
Share on Facebook
Tweet




