Bregada Prajurit Purbaya Sleman Raih Dua Penghargaan Karnaval Keprajuritan Nusantara 2011
Posted on Friday, December 9th, 2011 Under Berita
Bregada Prajurit Purbaya yang berasal dari Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman yang mewakili Provinsi DIY meraih dua penghargaan dua penghargaan dalam Karnaval Keprajuritan Nusantara 2011 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Minggu 23 Oktober 2011.
Dua penghargaan tersebut adalah sebagai penyaji unggulan serta arak-arakan terbaik. Penghargaan sebagai penyaji unggulan memperoleh trofi dari Direktur Utama TMII. Sementara sebagai penyaji arak-arakan terbaik memperoleh trofi dari Menteri Negara Pemuda dan Olahraga RI.
Bregada Prajurit Purbaya beranggotakan 68 prajurit juga menampilkan fragmen “Darmaning Satria Utama” di Plaza Tugu Api Pancasila TMII Jakarta. Fragmen tersebut menggambarkan suasana perjuangan dan kejuangan semasa kolonial Belanda.
Pada masa kerajaan Mataram, tanah Jawa Dwipa yang gemah ripah loh jinawi, tersebutlah Pangeran Purbaya atau Purbaya II putra dari Jaka Umbaran, yaitu cucu dari Panembahan Senopati dengan Putri Nggiring Niken Purwasari yang bergelar Ratu Lembayung.
Pangeran Purbaya juga disebut Panembahan Purbaya yang mengalami hidup tiga masa pemerintahan raja Mataram yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo, Sultan Amangkurat Agung dan Sunan Amangkurat Amral.
Pada masa penjajahan Belanda tahun 1628-1629 terjadilah pergolakan batin dalam hati Pangeran Purbaya yang melihat ketidakadilan Belanda pimpinan oleh Jan Pieter Zoon Coen. Jan Pieter Zoon Coen dengan berbagai tipu muslihat berusaha memperdaya Pangeran Purbaya, namun Pangeran Purbaya tidak terpedaya.
Pangeran Purbaya memanggil Tumenggung Sura Agul-Agul, untuk membentuk pasukan antara lain prajurit putri yang diberi nama “Bregada Prajurit Langen Kusuma”, bekerjasama dengan pemimpin prajurit yang lain yaitu Tumenggung Bahu Rekso dan Tumenggung Singo Ranu untuk menyerang pertahanan penjajah. Tumenggung Sura Agul-Agul merasa bangga karena merasa diberi kehormatan untuk memimpin prajurit Mataram.
Prajurit Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Sura Agul-Agul melakukan persiapan dan latihan perang dengan penuh semangat supaya dapat segera mengusir penjajah dari Tanah Jawa. Bregada prajurit Langen Kesuma tidak kalah semangatnya untuk berlatih perang dalam tekad melawan penjajahan Kompeni Belanda, belajar ketangkasan untuk menguasai senjata panah.
Dilain pihak, prajurit Belanda berlatih baris berbaris dan berlatih menembak dengan senjata senapan laras panjang, untuk sewaktu-waktu terjadi peperangan yang tidak dapat dihindarkan bersama Jan Pieter Zoon Coen.
Pertempuran sengit pecah antara barisan Prajurit Mataram melawan pasukan Kompeni Belanda. Semua senjata tradisional Mataram dikeluarkan tombak, pedang, keris, cundrik, panah, hingga membuat barisan pasukan Kompeni Belanda kewalahan.
Pimpinan pasukan Belanda Jan Pieter Zoon Coen tidak mau ketinggalan untuk menerjang lawan dan berhadapan langsung dengan Tumenggung Sura Agul-Agul. Namun Pangeran Purbaya tidak tinggal diam,Ia segera membantu hingga Pasukan Mataram berhasil melawan Kompeni Belanda dan mengalahkan Jan Pieter Zoon Coen. Kemenangan dan kepahlawanan Pangeran Purbaya menghalau penjajah diakui oleh seluruh masyarakat Jawa Dwipa dan seluruh negeri tercinta.-
Kepala Bidang Peninggalan Budaya dan Nilai Tradisi Dinas Kebudayaan Pariwisata (Disbudpar) Sleman Aji Wulantara, keberhasilan meraih penghargaan tingkat nasional dalam Karnaval Keprajuritan Nusantara 2011 merupakan hasil kerja keras dan dedikasi dari anggota Bregada Prajurit Purbaya.
“Keberhasilan kontingen DIY tersebut yang merupakan keberhasilan tim secara kolektif, bukan keberhasilan orang per orang. Sudah barang tentu kerja keras dan dedikasi dari personil bregada prajurit Purbaya merupakan hal yang sangat positif dan perlu dipertahankan di masa mendatang,” Aji Wulantara, Senin (24/10).
Tim produksi Bregada Prajurit Purbaya terdiri atas sutradara dan penata tari Agus Sukina, S.Sn, penata iringan Agus Marwanto, penata busana Retno Mursilah. Sedangkan tokoh Pangeran Purbaya diperankan Damar Kasiadi, Jan Pieter Zoon Coen oleh Johan, dan Tumenggung Sura Agul-Agul oleh Surono. (Jogjanews.com/Joe)
Share on Facebook
Tweet


